Stres merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Pekerjaan yang menumpuk, kurang tidur, masalah keluarga, hingga perubahan besar dalam hidup dapat membuat tubuh mengalami tekanan.
Salah satu dampaknya yang mungkin muncul adalah rambut rontok. Menariknya, kerontokan akibat stres sering kali tidak langsung terlihat. Rambut dapat mulai rontok beberapa minggu hingga beberapa bulan setelah tubuh mengalami stres berat.
Lantas, bagaimana stres bisa menyebabkan rambut rontok dan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasinya?
Bagaimana Stres Bisa Menyebabkan Rambut Rontok?
Rambut memiliki siklus pertumbuhan yang terdiri dari beberapa fase. Salah satunya adalah fase telogen atau fase istirahat.
Stres fisik maupun emosional yang berat dapat mengganggu siklus pertumbuhan rambut dan membuat lebih banyak folikel rambut masuk ke fase telogen secara bersamaan. Kondisi ini dikenal sebagai telogen effluvium.
Akibatnya, kerontokan dapat terlihat lebih banyak ketika keramas, menyisir, atau bahkan saat mengusap rambut.
Kerontokan biasanya tidak muncul tepat ketika seseorang mengalami stres. Pada telogen effluvium, rambut sering kali mulai rontok sekitar beberapa bulan setelah pemicu terjadi.
Jenis Kerontokan yang Dapat Berkaitan dengan Stres
Stres dapat berkaitan dengan beberapa kondisi rambut dan perilaku yang menyebabkan kerontokan. Namun, mekanismenya berbeda-beda.
1. Telogen Effluvium
Telogen effluvium merupakan salah satu penyebab kerontokan rambut yang dapat muncul setelah tubuh mengalami stres berat, sakit, operasi, perubahan hormonal, penurunan berat badan yang signifikan, atau faktor lainnya.
Kerontokan biasanya terjadi secara menyeluruh sehingga rambut terlihat lebih tipis, bukan membentuk satu area botak yang jelas.
Pada banyak kasus, kondisi ini bersifat sementara dan pertumbuhan rambut dapat kembali setelah pemicunya teratasi.
2. Alopecia Areata
Alopecia areata merupakan kondisi autoimun ketika sistem kekebalan tubuh menyerang folikel rambut.
Kondisi ini dapat menyebabkan rambut rontok dalam bentuk area atau bercak yang relatif jelas. Stres dapat menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan munculnya atau kambuhnya kondisi pada sebagian orang, tetapi alopecia areata bukan sekadar “rambut rontok karena stres”.
Jika muncul pitak atau bercak kebotakan secara tiba-tiba, sebaiknya periksakan ke dokter kulit.
3. Trikotilomania
Trikotilomania merupakan kondisi ketika seseorang memiliki dorongan berulang untuk mencabut rambut sendiri.
Dorongan tersebut dapat berkaitan dengan stres, kecemasan, atau kondisi psikologis tertentu. Rambut dapat menjadi tidak merata karena terus-menerus dicabut.
Kondisi ini membutuhkan penanganan yang tepat dan bukan hanya perawatan rambut dari luar.
Ciri-Ciri Rambut Rontok yang Perlu Diperhatikan
Rambut memang mengalami kerontokan secara alami setiap hari. Jumlah rambut yang rontok dapat berbeda pada setiap orang dan tidak ada angka tunggal yang bisa dijadikan batas pasti untuk menentukan apakah kerontokan normal atau tidak.
Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:
- Rambut tiba-tiba rontok jauh lebih banyak dari biasanya.
- Banyak rambut terlihat saat keramas atau menyisir.
- Rambut terasa semakin tipis dalam beberapa waktu.
- Kerontokan terjadi secara merata di kulit kepala.
- Muncul area rambut yang menipis atau botak secara tiba-tiba.
- Kerontokan muncul beberapa waktu setelah mengalami stres berat, sakit, atau perubahan kondisi tubuh.
Jika kerontokan terus berlangsung atau semakin berat, sebaiknya jangan langsung menyimpulkan bahwa penyebabnya adalah stres. Ada banyak kondisi lain yang juga dapat menyebabkan rambut rontok.
Cara Mengatasi Rambut Rontok karena Stres
Jika kerontokan berkaitan dengan telogen effluvium, fokus utama adalah mencari dan mengatasi faktor pemicunya sekaligus menjaga kondisi tubuh dan rambut.
1. Kelola Stres dengan Lebih Baik
Manajemen stres dapat dilakukan dengan berbagai cara sesuai kebutuhan dan kondisi masing-masing.
Cobalah melakukan aktivitas yang membantu tubuh lebih rileks, seperti berjalan santai, latihan pernapasan, meditasi, yoga, menjalankan hobi, atau menghabiskan waktu bersama orang terdekat.
Jika stres terasa sulit dikendalikan atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan ragu mencari bantuan profesional.
2. Pastikan Asupan Nutrisi Terpenuhi
Rambut membutuhkan berbagai zat gizi untuk tumbuh. Pastikan pola makan sehari-hari mencakup protein, zat besi, zinc, vitamin, mineral, serta nutrisi lainnya dalam jumlah yang cukup.
Sumber protein dapat berasal dari telur, ikan, ayam, daging, tahu, dan tempe. Sementara itu, sayuran, buah, kacang-kacangan, serta biji-bijian dapat membantu melengkapi kebutuhan nutrisi.
Tidak perlu langsung mengonsumsi suplemen rambut. Suplemen seperti biotin terutama bermanfaat jika seseorang mengalami kekurangan, sedangkan konsumsi berlebihan tidak otomatis membuat rambut tumbuh lebih cepat atau lebih lebat.
3. Rawat Rambut dengan Lembut
Saat mengalami kerontokan, perlakukan rambut dengan lebih lembut.
Kurangi penggunaan alat styling dengan suhu tinggi, hindari mengikat rambut terlalu kencang, dan jangan menyisir rambut secara kasar.
Gunakan produk perawatan yang sesuai dengan kondisi kulit kepala dan rambut. Tidak semua orang harus menggunakan sampo bebas sulfat atau hair tonic tertentu karena kebutuhan setiap orang berbeda.
4. Berikan Waktu untuk Rambut Pulih
Kerontokan akibat telogen effluvium tidak selalu berhenti dalam waktu singkat.
Setelah faktor pemicu teratasi, tubuh membutuhkan waktu untuk kembali menjalankan siklus pertumbuhan rambut secara normal. Pertumbuhan rambut juga berlangsung secara bertahap sehingga hasilnya tidak da
